Kematian selalu menjadi isu yang berat bagi saya. Dimulai dengan wafatnya mbah buyut dan diikuti dengan meninggalnya eyang; semua itu tidak membuat saya menjadi orang yang kuat ketika menghadapi takdir manusia yang bernama “kematian”.

Sesampainya di rumah malam ini, saya iseng membuka facebook. Maksud hati hanya sekedar melihat-lihat notifikasi terbaru. Pandangan saya kemudian tertuju kepada satu profil, Deddy Kuncoro. Mas Dekun, begitu panggilannya, adalah senior angkatan 1990 Program Studi Rusia FIB UI. Untuk seorang kakak kelas yang sangat jauh beda angkatannya, beliau adalah orang yang hangat dan tidak menunjukkan kesenioritasannya. Dengan rendah hati dan tulus, beliau sering membantu kami adik-adiknya, baik yang satu program studi, maupun dari jurusan lain.

Sangat kaget rasanya ketika suatu hari melihat pesan di grup yang memberitahukan bahwa ia dalam keadaan koma dan dirawat di rumah sakit lantaran terjatuh dari pohon. Saat itu, Mas Dekun sedang membantu anak-anak program studi Cina FIB UI memasang lampion untuk kegiatan festival tahunan mereka. Posisi jatuh yang dialaminya membuat dia tidak sadar berhari-hari, jatuh dengan kepala terlebih dahulu.

Kabar baik sempat datang ketika kawan-kawan memberitahukan bahwa Mas Dekun sempat sadar dan ada kemungkinan bahwa ia tidak perlu dioperasi. Namun, kabar baik tersebut tidak diikuti dengan kabar yang lebih baik. Pada tanggal 2 Mei 2012 kemarin, Mas Dekun akhirnya meninggal.

Malam ini, ketika sedang melihat-lihat profilnya di Facebook, sebuah wall post membuat saya terkenang akan Mas Dekun. Istrinya, Mbak Dewi, menuliskan sesuatu yang mengeluarkan simpati saya.

Pe,
kamu masih datang ke dalam mimpiku. Mencium keningku, dan mengajakku pergi namun aku tidak mau.
Bagiku, yang sudah meninggal, tidak akan kembali lagi.
Aku hanya bisa berdoa menurut caraku sendiri.
Aku bukan muslim yang taat, tapi aku ikhlas dan menerima keadaan ini.
Cintaku kepadamu diwujudkan dengan menerima keadaan ini dan merawat Kingkin.

Tidak ada yang bisa saya lakukan selain mengenang Mas Dekun dengan membuat tulisan ini. Saya akan merindukan telepon darinya yang hanya sekedar berbasa-basi. Saya akan kehilangan suaranya yang suka menyapa saya ketika saya melintas di depannya. Kami semua merasa kehilangan sosok senior yang rendah hati dan suka menolong.

Sebagai perpisahan wujud perpisahan, lagu Time To Say Goodbye dari Andrea Bocelli dan Sarah Brightman ini saya persembahkan untuk Mbak Dewi dan Kingkin, dan terutama untuk Mas Dekun.

Selamat jalan, Mas Dekun. Saatnya untuk mengucapkan selamat jalan. Namun, akan ada saatnya kita akan berjumpa lagi.

 

Time To Say Goodbye To Dekun

Comments

comments

Powered by Facebook Comments