The Worst Day of My Life
Saya tidak tahu pastinya kapan terakhir saya merasa sangat buruk, feel awfully violated. Mungkin kalo yang namanya putus cinta atau ada kerabat dan orang tercinta yang meninggal itu rasanya sedih, saya ngga tahu yang saya rasakan ini masuk kategori apa.
Gamang? Agak. Sakit hati? YA. Kecewa? PASTI. Sedih? SANGAT. Galau? Jangan ditanya! Tapi ada satu lagi perasaan yang saya tidak tahu apa istilahnya atau bagaimana mendeskripsikannya. Mungkin saking campur aduknya semua perasaan di atas dan perasaan-perasaan lainnya saya sampai kehilangan kata-kata, bahkan untuk mengulang kembali semua adegan yang terjadi sore tadi di kepala saya enggan rasanya.
Ini bukanlah kejadian buruk yang menimpa saya. Tapi, saya bukanlah orang yang antipati dan tidak ada hati untuk tidak bereaksi. Orang-orang melihat saya tertawa, tetap semangat bekerja atau mengeluarkan candaan. Saya menyebut itu semua sebagai defense mechanism, suatu bentuk bela diri dari diri saya yang sesungguhnya rapuh. Jika suka, kalian bisa menyebut itu sebagai Tameng. Saya terlalu takut untuk memasukkan kejadian hari ini jauh-jauh ke dalam benak saya.
Saya ulangi, ini bukanlah pengalaman saya langsung. Saya hanya terkena imbas dari keadaan yang kurang baik dan orang-orang yang menjadi korban. Kalau begitu, apakah saya juga salah satu korbannya? Saya rasa, ya. Saya juga adalah korban tidak langsung.
Melihat manusia yang satu menyingkirkan manusia lainnya, mengingatkan saya bahwa di atas suatu kekuatan, ada kekuatan yang lebih besar lagi yang mengatur. Konsep transenden kembali terbayang di kepala saya. Ada kuasa yang lebih besar di luar bayangan manusia.
Sebagai seorang yang beriman, saya percaya bahwa Tuhan adalah penulis dari naskah yang harus kita lakoni. Mungkin sekarang peran yang sedang didapat teman-teman saya adalah peran orang baik yang sedang ditindas. Naskah belum selesai dimainkan, jadi masih ada kemungkinan untuk perubahan peran.
Pesan yang ingin saya sampaikan, bagi teman-teman pembaca yang mengerti maksud tulisan ini, jangan berhenti melakoni peran sebelum kata selesai tertulis di bagian akhir naskah. Saya pun sebagai salah satu pelakon naskah yang dibuat Tuhan, dan juga sebagai makhluk sosial, akan berusaha semampu saya supaya kita bisa melakoni adegan yang sama lagi.
Meskipun adegan selanjutnya tidak akan sama tanpa pemeran-pemeran yang telah lepas, perlu diingat bahwa saya senang pernah menjalani suatu adegan indah bersama kalian.




Jabber
Madah Bahana
Marching Maniac