Semakin Dikekang, Semakin Membangkang

Kalian pasti pernah mendengar perkataan “Peraturan dibuat untuk dilanggar”. Mengapa kecenderungannya orang-orang beranggapan seperti itu? Bukankah peraturan dibuat untuk memberi batasan apa saja yang boleh atau tidak boleh dilakukan untuk mencapai taraf kehidupan yang lebih baik? Banyaknya pelanggaran dalam berbagai aturan menyadarkan kita bahwa, ternyata memang manusia memiliki kecenderungan untuk melanggar peraturan.

Apakah Anda familiar dengan istilah psikologiĀ Intensi Agresivitas? Saya pribadi pun tidak paham :D .

Intensi Agresivitas adalah kecenderungan seseorang berperilaku yang 
berlawanan dengan aturan umum atau norma sosial yang dilakukan baik secara 
fisik maupun verbal dengan sengaja yang dapat mengakibatkan kerugian dan 
kerusakan baik terhadap dirinya sendiri maupun orang lain atau objek perilaku 
yang menimbulkan dampak negatif.

Adanya istilah tersebut membuktikan bahwa manusia memang memiliki kecenderungan untuk melanggar peraturan memang nyata dan terjadi di sekitar kita.

Ketika masih kecil, orang tua sering melarang anaknya untuk melakukan hal-hal yang dirasa bisa membahayakan anak tersebut atau memang hal yang akan dilakukan si anak memang tidak sesuai dengan norma sosial yang ada. Ribet yah? Ok, saya kasih contoh. Orang tua mengajarkan anaknya sedari kecil untuk selalu mengoperkan barang ke orang lain dengan tangan kanan, makan dengan tangan kanan, bersalaman dengan tangan kanan. Bahkan ada beberapa kejadian dimana teman saya yang (ternyata) seorang kidal dipaksa untuk menggunakan tangan kanannya untuk beraktifitas. Mengapa harus dengan tangan kanan? Kebiasaan untuk melakukan segalanya dengan tangan kanan yang ada hanya membuat tangan kiri kita “impoten” dari kegiatan lainnya.

Setelah beranjak lebih dewasa, orang tua memberi jenis larangan-larangan lainnya yang tingkatannya lebih tinggi lagi dari contoh sebelumnya, misalnya tidak boleh pulang malam, tidak boleh minum minuman beralkohol, tidak boleh bolos sekolah, tidak boleh merokok, dan larangan-larangan lainnya yang saya rasa pasti dialami secara pribadi oleh para pembaca. TAPI, dengan semua larangan itu, siapa dari kalian yang melanggarnya?

Dalam beberapa kali kesempatan ngobrol, beberapa teman saya justru bercerita betapa besar kebebasan yang diberikan oleh orang tua mereka smapai-sampai mereka terlalu menghargai orang tuanya untuk melanggar aturan yang dibuat. Contoh kalimatnya begini:

Anak: Ma, aku mau bikin tato yah

Mama: Terserah sih, tapi kalo sholatnya ga diterima sama Allah bukan salah Mama yah

atau seperti ini…

Anak: Ma, aku sama pacar ke kamar dulu yah

Mama: Iya, tapi kalo kejadian apa-apa jangan lupa pake kondom. Mama ga punya duit buat biayain nikah sama lahiran. (yang ini contoh rekaan)

Dan beberapa teman yang diberi kebebasan dengan demikian oleh orang tuanya justru hidupnya malah lebih lancar tanpa ada musibah seperti hamil di luar pernikahan, over dosis obat-obatan terlarang, dan lain-lain.

Tadinya “Rumah”, Sekarang “Penjara”

Readers, long time no see :D

Sedih juga saya melihat home page web ini, karena tanggal post terakhir yang tertera (sebelum ada post ini) adalah 14 Juli 2011, dan itupun hanya sebuah video tanpa tulisan panjang yang bermakna. Nampaknya kesibukkan di kantor membuat saya harus melepas sejenak kesukaan saya menulis di sini.

Lalu, apa yang membuat saya tiba-tiba menulis kembali? Jadi begini ceritanya. Ketika saya mulai bekerja di kantor tempat saya bekerja sekarang, saya berkata kepada salah seorang teman yang bernama Putra, “Kerja di sini enak banget yah, Put. Have fun all day,” dan Putra pun menjawab, “Ya, beginilah. Enak emang kerja di sini.” Dan saya pun berpikir, betapa beruntungnya saya. Mungkin kantor ini bukanlah kantor besar dengan jumlah pegawai yang banyak dan tidak juga bertempat di gedung yang besar dan milik pribadi. Namun, di sini saya merasa nyaman. Ada meja foozball untuk sekedar “berolahraga” sebentar di jam istirahat, ada otoped yang bisa digunakan untuk mobilisasi yang lebih cepat, dan pastinya rekan-rekan sekantor yang cihuy, asyik dan menyenangkan. Bahkan saya mendekorasi meja saya dengan bayak sekali mainan. Rasanya seperti di rumah (kurang tempat tidur aja).

Tiba-tiba, bencana datang dalam bentuk pemberitaan media massa tentang “sesuatu” yang mempengaruhi kantor kami. Pendek kata, semuanya berubah. Apes bener, sampai-sampai kantor ini dipasangi kamera CCTV untuk mengawasi pergerakan yang tidak diinginkan disini. Pintu lapis kedua yang biasanya terbuka, sekarang selalu tertutup dan dilapisi kaca film yang gelap. Memang sih, masih bisa main-main di dalamnya. Tapi dengan beberapa perubahan tersebut, kantor yang tadinya seperti rumah berubah menjadi seperti penjara.

Jujur, saya merasa bersimpati kepada para empunya perusahaan ini. Semoga guncangan yang sedang menimpa di kantor cepat reda dan “penjara” ini kembali menjadi rumah.