Apa Sih Susahnya Jujur?

Readers, saya yakin dari kecil kita semua sudah familiar dengan yang namanya bohong. Kita merengek kepada orang tua minta dibelikan jajanan, tapi orang tua membohongi kita dengan alasan makanan jajanan tersebut banyak racunnya, atau apapunlah, yang sering kita sebut dengan white lies.

Ketika mulai sekolah, kita mulai melakukan kebohongan tersebut kepada teman-teman kita, misalnya dengan memamerkan apa yang sesungguhnya bukan milik kita, membual soal kehidupan, bermain “ibu-ibuan”, dan lain-lain. Sikap bohong anak kecil seperti itu ada hubungannya dengan fantasi mereka yang sedang bertumbuh, atau mungkin juga merupakan feed back dari masalah yang ada dalam keluarganya. Of course, itu masih acceptable.

Beranjak lebih dewasa lagi, kita mulai berbohong terhadap orang tua, guru atau teman. Saya yakin hal itu karena sifat defensif kita ketika tidak mendapat apa yang kita mau. (Or at least, itu alasan saya dulu). Hingga akhirnya kita menjadi lebih dewasa dan sadar betul akan keburukan dari berbohong.

Saya pribadi sebisa mungkin tidak membohongi orang. Saya selalu berusaha untuk jujur, baik dengan cara halus maupun “kasar”. Tentunya, harapan saya adalah supaya orang juga bersikap jujur kepada saya. Namun apa daya, tidak semua orang berpikiran sama. Mungkin mereka menyodorkan white lies kepada kita dengan alasan supaya kita dapat menerima penolakan dengan lapang dada. Contoh yang paling mudah adalah ketika pasangan anda membohongi anda mengenai sms yang didapatnya dari mantan pacarnya. Supaya anda tidak sakit hati, lantas dia berbohong sebagai tameng untuk melindungi dirinya dari kemarahan. Tetap saja itu namanya bohong.

Menurut saya, jika seseorang ingin berbohong untuk kebaikan, sebisa mungkin sebaiknya kebohongan tersebut tidak terbongkar. Jika orang yang dibohongi tahu akan kebenaran di balik kebohongan tersebut, siapa yang tahu bagaimana reaksi orang tersebut.

Semakin usia bertambah, semakin banyak kebohongan yang terjadi di sekitar kita (baik yang dilakukan oleh diri sendiri maupun orang lain). Akhir-akhir ini saya merasa dibohongi, yang sampai saat ini (berarti kira-kira sudah 2 minggu); saya merasa sangat kecewa dan tertipu olehnya. Apa sih susahnya mengatakan alasan yang sesungguhnya untuk memaparkan penolakan? Saya hanya ingin berpartisispasi dalam suatu acara, namun 1001 alasan dikemukakan, mulai dari saya harus tetap berada di tempat untuk memimpin anak-anak yang lain, tidak ada dana untuk membiayai saya, saya tidak cocok untuk acara tersebut, atau malah mengalihkan saya ke orang lain untuk memberikan alasan ketidakpergian saya.

Kalian yang pernah dibohongi pasti tahu rasanya dikecewakan seperti itu. Kalian yang pernah membohongi pun tahu kalau kebohongan yang tidak kuat seperti itu akan terbongkar dan malah akan menelurkan rasa ketidakpercayaan terhadap pihak yang telah membohongi. Entah sampai kapan rasa kecewa itu akan hilang; pasti akan hilang (rasa kecewa), tapi tidak akan dilupakan.

Sebagai makhluk sosial, dimana manusia saling membutuhkan satu sama lain, semua norma yang ada di sekitar mengajarkan kita untuk bersikap baik terhadap sesama. Kalimat berikut ini mungkin terdengar cliché, tapi jika tidak dimulai dari diri sendiri, kapan kejujuran itu akan menjadi refleks utama kita? Jika kita terbiasa jujur, orang lain juga terbiasa jujur, bukankah kehidupan akan menjadi lebih baik?

Comments
  • monica says:

    o cyom?

  • jossman says:

    pertamax gan!!

    ane jg pernah tuh, tau gimana rasanya dibohongin buat urusan pribadi temen ama pacar dulu (udah mantan jg sich). selama ga ketauan mah, emang adem2 aja gitu. giliran tau, dari orang lain lagi, inget bener bawaannya mau ngasah golok mulu pas kuping denger pertama kali.

    dibohongi itu bisa jadi pilihan terbaik juga mungkin? pelajaran berharga buat yg kena. kaga tau juga sih.. experiment is may also the best teacher, gan!

Leave a Comment
*