Birthday Post

HAPPY BIRTHDAY!!!!

Genap setahun juga homepage namasayaratih!!!! Selamat ulang tahun!!! Bermula dari blog gratisan, akhirnya menjadi website berbayar. The credits belongs to Ilya Averkov, seorang programmer asal Rusia yang saya kenal di sebuah media social networking. Sebagai hadiah ulang tahun, Ilya membuatkan saya blog ini. Terima kasih juga untuk Ilya, karena dari website inilah saya menemukan hobi saya dan kemampuan lain saya (menulis). Bahkan, saya mendapatkan pekerjaan karena adanya website ini. Orang-orang menyukai cara menulis saya. Sebenarnya sih kemampuan saya biasa saja, tapi ternyata kebanyakan orang mengalami kesulitan dalam hal menulis.

Saya teringat postingan pertama, saat saya sama sekali tidak tahu bagaimana caranya menggunakan sebuah blog. Sekarang ketika saya melihat visitor counter di pojok kanan bawah halaman ini, sudah empat ribu tiga ratusan views. Lumayan banyak untuk orang yang jarang menulis. Tapi lihat sekarang bagaimana kemajuan website ini. Yah, memang tidak seperti punya orang lain. Setidaknya ada perubahan lah yah.

Yang ulang tahun bukan hanya website saya saja lho. Yang punya website juga berulang tahun :D . Berkurang satu umur saya di dunia. Saya mendapatkan kado ulang tahun dibayar di muka dari Tuhan, pekerjaan. Saya sangat bersyukur karena saya mendapat pekerjaan yang ternyata sangat saya sukai, sesuai dengan kemampuan saya dan memiliki lingkungan yang menyenangkan.

Terima kasih kepada Tuhan Yesus Kristus atas segala berkat, rahmat, karunia, perlindungan yang telah diberikan kepada saya. 26 tahun (iya, 26!!! Jangan ketawa!!) sudah saya berada dalam perlindungan Tuhan, berusaha menjadi lebih baik dari hari ke hari. Memang, tidak bias dikatakan bahwa saya adalah hamba-Nya yang paling setia. Tetapi Tuhan pasti tahu kalau iman saya tidak pernah goyah. Mempertanyakan, mungkin, YA, goyah, TIDAK PERNAH! Saya yakin dan mengimani Tuhan saya. I love you, God!!

Terima kasih buat Papa, Yusuf Dani yang supportnya tiada habisnya. Sabar yah, Pa. Aku tahu Papa sudah tua, kasih beberapa waktu lagi sebelum aku bisa benar-benar mapan dan ngga nyusahin Papa lagi. Tuhan, kasih kesehatan buat Papa supaya masih bisa ngurusin anak-anaknya.

Buat Mama yang selalu jadi teman (cerita, berantem, dll), anaknya sudah 26 tahun nih. Selalu diinget yah. Kadang-kadang orang tua suka lupa deh kalo pernah muda juga. Suka lupa juga kalo anaknya udah gede. Semoga berkat Tuhan buat Mama juga ngga ada habisnya.

Adikku Danu yang makin hari makin gaul, yang kadang jadi teman baik, kadang jadi musuh sejati. Ahaahahaha.. Punya saudara kayak Danu itu memang sangat menyenangkan. Sama sekali tidak membosankan. Jadi orang yang rajin yah, Brah.

Buat Mamas yang setia banget, mau diapain juga. Lama juga yah kita kenal. Sejarah pun panjang, mulai dari sayang-sayangan, mesra-mesraan, sampe tampol-tampolan. Hahahahahaa… Seru buat jadi cerita.

Untuk teman-temanku Rusia 2004 UI, The colors of my life, yang, mau lost contact gimana juga, kalau udah ketemu chemistry tetap masih ada. Monica, Intan, Panji, Hendra, Ali, Andri, dan yang lain-lainnya, selalu bisa mencerahkan hidup. Kalo kata Niki (Alm.), “Angkatan kita emang warna-warni!!” God bles you, Niki, wherever you are.

Untuk teman-teman MBUI yang akhir-akhir ini selalu jadi tempat ketawa, Dedy, Erwin, Galih, Yoyo, Biancha, Wahyu, Banon, Pheye, Rama. You are my stars!

Post ini bukan ucapan terima kasih karena telah menerima penghargaan Grammy Awards. Ucapan terima kasih ini semata-mata karena saya bersyukur, sudah memiliki hidup yang bahagia, termasuk senang dan sedihnya.

Terima kasih, Tuhan, atas karunia-Mu yang tiada habisnya.

 

Apa Sih Susahnya Jujur?

Readers, saya yakin dari kecil kita semua sudah familiar dengan yang namanya bohong. Kita merengek kepada orang tua minta dibelikan jajanan, tapi orang tua membohongi kita dengan alasan makanan jajanan tersebut banyak racunnya, atau apapunlah, yang sering kita sebut dengan white lies.

Ketika mulai sekolah, kita mulai melakukan kebohongan tersebut kepada teman-teman kita, misalnya dengan memamerkan apa yang sesungguhnya bukan milik kita, membual soal kehidupan, bermain “ibu-ibuan”, dan lain-lain. Sikap bohong anak kecil seperti itu ada hubungannya dengan fantasi mereka yang sedang bertumbuh, atau mungkin juga merupakan feed back dari masalah yang ada dalam keluarganya. Of course, itu masih acceptable.

Beranjak lebih dewasa lagi, kita mulai berbohong terhadap orang tua, guru atau teman. Saya yakin hal itu karena sifat defensif kita ketika tidak mendapat apa yang kita mau. (Or at least, itu alasan saya dulu). Hingga akhirnya kita menjadi lebih dewasa dan sadar betul akan keburukan dari berbohong.

Saya pribadi sebisa mungkin tidak membohongi orang. Saya selalu berusaha untuk jujur, baik dengan cara halus maupun “kasar”. Tentunya, harapan saya adalah supaya orang juga bersikap jujur kepada saya. Namun apa daya, tidak semua orang berpikiran sama. Mungkin mereka menyodorkan white lies kepada kita dengan alasan supaya kita dapat menerima penolakan dengan lapang dada. Contoh yang paling mudah adalah ketika pasangan anda membohongi anda mengenai sms yang didapatnya dari mantan pacarnya. Supaya anda tidak sakit hati, lantas dia berbohong sebagai tameng untuk melindungi dirinya dari kemarahan. Tetap saja itu namanya bohong.

Menurut saya, jika seseorang ingin berbohong untuk kebaikan, sebisa mungkin sebaiknya kebohongan tersebut tidak terbongkar. Jika orang yang dibohongi tahu akan kebenaran di balik kebohongan tersebut, siapa yang tahu bagaimana reaksi orang tersebut.

Semakin usia bertambah, semakin banyak kebohongan yang terjadi di sekitar kita (baik yang dilakukan oleh diri sendiri maupun orang lain). Akhir-akhir ini saya merasa dibohongi, yang sampai saat ini (berarti kira-kira sudah 2 minggu); saya merasa sangat kecewa dan tertipu olehnya. Apa sih susahnya mengatakan alasan yang sesungguhnya untuk memaparkan penolakan? Saya hanya ingin berpartisispasi dalam suatu acara, namun 1001 alasan dikemukakan, mulai dari saya harus tetap berada di tempat untuk memimpin anak-anak yang lain, tidak ada dana untuk membiayai saya, saya tidak cocok untuk acara tersebut, atau malah mengalihkan saya ke orang lain untuk memberikan alasan ketidakpergian saya.

Kalian yang pernah dibohongi pasti tahu rasanya dikecewakan seperti itu. Kalian yang pernah membohongi pun tahu kalau kebohongan yang tidak kuat seperti itu akan terbongkar dan malah akan menelurkan rasa ketidakpercayaan terhadap pihak yang telah membohongi. Entah sampai kapan rasa kecewa itu akan hilang; pasti akan hilang (rasa kecewa), tapi tidak akan dilupakan.

Sebagai makhluk sosial, dimana manusia saling membutuhkan satu sama lain, semua norma yang ada di sekitar mengajarkan kita untuk bersikap baik terhadap sesama. Kalimat berikut ini mungkin terdengar cliché, tapi jika tidak dimulai dari diri sendiri, kapan kejujuran itu akan menjadi refleks utama kita? Jika kita terbiasa jujur, orang lain juga terbiasa jujur, bukankah kehidupan akan menjadi lebih baik?

Kemana Perginya Ara?

Topik yang ingin saya angkat tidaklah besar, namun sepele, nama tokoh. Kalau anda gemar menonton sinetron tahun 90-an, anda pasti familiar dengan nama orang yang saya pakai di judul tulisan ini, Ara. Ara, atau Cemara, adalah tokoh utama dari sinetron Keluarga Cemara yang dulu pernah ditayangkan oleh RCTI. Keluarga Cemara menceritakan kisah keseharian sebuah keluarga yang sederhana. Tokohnya adalah Ara, Emak, Abah, Euis, dll.

Akhir-akhir ini saya terusik oleh munculnya tayangan-tayangan televisi yang mengusung modernisasi. Saya menyaksikan sebuah sinetron yang mengusung gaya hidup modern, mulai dari pakaian, gadget, hingga nama. Linzy, Justin, PJ, adalah contoh nama-nama yang digunakan. Buat saya, nama seperti judul, mencerminkan isinya. Saya rasa, nama-nama modern yang kebarat-baratan tersebut digunakan sebagai tokoh sinetron, membuat bingung penontonnya yang kebanyakan adalah masyarakat dengan tingkat pendidikan menengah ke bawah.

Saya lebih setuju jika nama-nama yang digunakan lebih mencerminkan Indonesia, seperti Susi, Angga, Tono, Joko, dll. Bangsa kita memiliki identitas sendiri, yang berbeda dengan bangsa lain. Kenapa kita harus malu untuk menggunakannya, malah cenderung menyembunyikan atau menghilangkannya. Nama saya Ratih, diambil dari tokoh pewayangan Jawa, dan saya bangga akan nama saya tersebut.