Gontor-Jabung, Ponorogo and My Friend’s Wedding

Beberapa minggu lalu saya dikejutkan dengan adanya undangan pernikahan teman saya, Dian. Sebenarnya saya tidak terlalu terkejut, mengingat gosip dari teman-teman angkatan di Rusia 2004, Dian (Dije) akan menikah. Segera sahabat saya Monica mengajak saya untuk pergi ke resepsi yang bertempat di Ponorogo.

Berangkat pada hari Jumat (22/10) menggunakan kereta Bima, kami tiba di Stasiun Madiun pada hari Sabtu dini hari. Setelah diantar ke daerah Jabung (agak ke luar dari kota Ponorogo), kami tiba di rumah Dije. Saya terkejut melihat Dije yang menyambut kami dengan kaos putih lengan pendek, celana warna cokelat sepanjang lutut dan tanpa jilbab. FYI, nama Dije itu sebenarnya adalah singkatan dari Dian-Jilbab (cerita mengenai awal mula nama panggilan itu akan dituliskan lain kali). Namun rasa-rasanya nama panggilan Dije tetap akan saya gunakan, dengan mengubah kepanjangannya menjadi Dian-Jabung :D

Awalnya kami mengira saya dan Monica akan langsung diantar ke penginapan tempat kami akan beristirahat setelah perjalanan panjang dari Jakarta. Namun Dije nampaknya membutuhkan kami sebagai temannya saat dia akan melangsungkan akad nikah yang dilaksanakan pagi itu juga. Jadilah kami ke penginapan untuk mandi dan bersiap-siap.

Kami menginap di wilayah Gontor, penginapan Darussalam-Penginapan Modern Gontor (sesuai jargon yang terpampang di plang depan kompleks penginapannya). Kami agak terkejut karena ada tulisan besar “Wajib Berbusana Muslim”. Nah lhoooo… Saya dan Monica adalah penganut agama Katolik yang (katanya) taat. Namun papan tulisan itu kami abaikan dengan asumsi mereka (baca:warga) pasti menghormati juga penginap yang beragama non-Muslim.

Jam 9 pagi kami diantar ke rumah Dije untuk acara akad nikah. Ternyata, yang menikah tidak hanya Dije, tapi juga kakaknya, Mbak Ririn. Setelah ngobrol-ngobrol, tahulah kami bahwa hukum adat setempat (yang masih sangat terasa), tidak memperbolehkan Dije untuk menikah jika kakak-kakaknya belum ada yang menikah. Dari pihak calon suami Dije, pernikahan ini adalah yang ketiga di keluarganya, sedangkan dari pihak Dije, pernikahan ini adalah yang pertama. Entah bagaiamana, hal itu tidak diperbolehkan. Maka dari itu Mba Ririn melangsungkan akad nikahnya sebelum Dije (dengan hanya jeda kurang dari setengah jam) supaya Dije adalah anak kedua dalam keluarganya yang melangsungkan pernikahan. Wow, saya yang keturunan Jawa namun terbiasa hidup di kota merasa agak terkejut mendengarnya. But that’s the rules there.

Menjelang akad, Dije sulit sekali tersenyum. Dia gugup. Saya hanya tertawa dengan harapan tawa saya terebut dapat mengurangi kegugupannya. Ternyata tidak. Dia bilang, rasanya semua emosi campur aduk, seperti naik jet coaster, katanya. Yah, saya belum pernah menikah, tapi saya tahu rasanya naik jet coaster. :D
Setelah melihat calon suaminya tiba mengenakan jas dan peci hitam, Dije nampak lebih semangat. Mungkin juga karena setelah dipingit dan tidak boleh bertemu dengan calon suaminya selama hampir seminggu.

Akad nikah Mbak Ririn selesai dan tibalah bagi Dije untuk menikah dengan suaminya. Acara berjalan lancar dan Dije resmi menjadi Ny. Supriyanto. SAH.
Berbeda sekali dengan sebelum acara, senyum yang terlihat di wajahnya pun lebih ikhlas dan lebih lepas.

Hari kedua adalah resepsi pernikahan yang dilangsungkan di rumah suami Dije, Mas Supri. Dije yang mengenakan baju pernikahan Jawa tampak sangat cantik dan berbeda sampai-sampai saya sempat tidak mengenalinya.
Selesai resepsi, saya dan Monica ditahan untuk tinggal di situ. Mulai hari itu, Dije akan tinggal sementara di rumah mertuanya sebelum kembali ke Surabaya untuk melakukan rutinitas kerjanya. Kami tinggal hingga hampir pukul sembilan malam dan kembali ke penginapan. Ngga enak juga kalau berlama-lama di sana. Kami mengerti kok hasrat pengantin baru di malam pertama. LOL.
Cukup aneh rasanya bagi saya untuk kembali pulang secepat itu. Ternyata, sudah menjadi adat setempat bagi anak perempuan untuk harus tiba di rumah jam sembilan malam. Pantas saja ibu saya yang keturunan Jawa selalu marah kalau saya pulang malam.

Hari ketiga, hari Senin, saatnya bagi saya dan Monica kembali ke Jakarta. Memang perjalanan kami ke Ponorogo bukan untuk berlibur, tapi (pastinya) kami sempat berfoto di beberapa objek wisata.

Selamat menempuh hidup baru, kawan. Segera beranak supaya keponakan angkatan kami bertambah dan Syafi (anak Intan-Aat) ada temannya. Entah kapan kami (Rusia 2004 lainnya) menyusul jejakmu. :D

Comments
  • aat says:

    foto2 di objek wisatanya mana

  • Dian Trihesti says:

    Ceu dan Dimuz, terima kasih untuk kedatangannya dan dukungannya. Senang kalian berada disampingku di moment spesialku. Aku sangat terharu. Maaf dengan segala keterbatasan penyambutan tempat, keterbatasan waktu dan semuanya. maaf Tidak sempat membawa kalian berwisata, dan menikmati kota Ponorogo. Bolehlah, kapan2 kita rencanakan liburan bersama, seperti yang kita bicarakan di mobil kemarin. Terima kasih temans…

Leave a Comment
*