Necessity First

Satu hal yang selalu ditekankan oleh ayah saya ketika saya merengek-rengek minta dibelikan barang adalah, “Prioritasnya apa? Ada unsur necessity-nya ngga? Kalo ngga ada, ga usah beli.”
Menjadi remaja berumur belasan tahun yang tinggal di kota besar seperti saya, dengan berbagai macam gadget baru yang bermunculan, sempat mengangkat rasa “banyak mau” (BM) saya. Melihat seorang teman menggunakan iPhone, saya ingin punya. Melihat teman saya memakai laptop Apple, saya langsung minta. Meskipun, kalau dipikir-pikir lagi, semua barang itu tidak saya butuhkan. Hanya rasa ingin memiliki lagi. Mungkin juga akibat peer pressure.
Setelah saya lebih dewasa, apa yang ayah saya katakana itu sangat tidak salah. Ketika pergaulan saya lebih luas, kolega dan kenalan lebih banyak, saya memperhatikan mereka semua. Seorang yang sukses berkat jerih payahnya sendiri, bisa dibilang mempunyai posisi yang strategis di kantornya, mereka semua tidak sebegitunya dalam urusan gadget. Buat mereka, kebutuhan yang relevan dengan keperluannyalah yang diutamakan. Saya tidak pernah melihat tetangga saya yang tajir melintir menggunakan hp yang hi-tech. Alih-alih, hpnya masih Nokia yang hitam putih. It’s all about the necessity.
Suatu ketika saya bercerita kepada seorang teman (baca: Bang Pepe dari kantor XL), betapa saya merasa tertinggal karena saya tidak menggunakan Blackberry. Akhirnya dia bercerita tentang pertemuannya dengan salah seorang insinyur Honda yang belum lama memberi sebuah share pengalaman tentang hal yang kebetulan sedang saya pikirkan. Pemilik perusahaan Honda (yang namanya adalah Honda) hanyalah lulusan SD. Bagaimana bisa dia membuat perusahaan kendaraan sebesar itu? Suatu hal yang sangat dihargai Honda adalah value. Sang insinyur yang bercerita ini adalah seorang doctor di bidang teknik. Setiap kali dia berbicara secara teori, Honda akan langsung memukulnya. Terdengar kasar memang, tapi dari situlah sang doctor belajar tentang value. Teori itu benar, tapi tidak ada apa-apanya tanpa praktek.
Benang merah antara cerita tersebut dengan bahan pikiran saya adalah, janganlah memandang suatu barang berdasarkan “gengsinya”, tapi lihatlah berdasarkan value-nya. Saya sebenarnya tidak membutuhkan Blackberry. Toh sms atau telepon bisa saya lakukan melalui HP Nokia saya (meskipun sudah tua); untuk akses internet saya bisa menggunakan yang di rumah saya; dan saya juga buakan orang yang sangat bergantung pada situs-situs social networking seperti Twitter, Facebook, dan lain-lain. Sejauh ini, saya tidak membutuhkan gadget itu.
Kalau kalian mengalami masalah yang sama dengan saya dan takut dibilang kuper atau ngga gaul karena tidak menggunakan gadget-gadget seperti yang digunakan teman-teman lainnya, plese deh. Sangat ngga penting. Jadilah orang yang mandiri, against the mainstream, dan punya pendirian kuat. Justru kamu mesti kasihan, karena teman-temanmu sudah menjadi budak konsumerisme.

Comments
Leave a Comment
*