Derita Bapak Supir

Dua kali saya bepergian naik taksi yang supirnya mencurahkan keluh kesah dalam keluarganya. Terus terang awalnya saya terganggu karena biasanya saya memilih naik taksi karena lelah dan ingin tertidur di perjalanan. Namun ketika selesai mendengar ceritanya, saya menjadi iba. Persoalan yang mereka hadapi sangat berat untuk mereka.

Pertama kali saya mendapat curhatan mereka ketika saya pulang dari Taman Mini Indonesia Indah bersama teman saya Roma dan Eli. Jelas kami lelah setelah seharian bertamasya di TMII. Kami ingin segera sampai di rumah karena cuaca sangat buruk, hujan lebat. Awalnya saya hanya beramah-tamah untuk memecah suasana dengan bertanya alamat tinggalnya. Kemudian secara perlahan, bapak supir tersebut menceritakan tentang keluarganya. Bapak supir tersebut, sebut saja Agus, tinggal di daerah TMII, Jakarta Timur. Dia memiliki enam orang anak dari seorang istri. Sebelum menjadi supir taksi, bapak Agus pernah bekerja dalam proyek di Aceh. Jauh dari istri dan anak-anak membuatnya rindu akan keluarganya. Semua tenaga dan waktunya dicurahkan untuk mencari nafkah bagi anak-anak dan istrinya. Ketika itu anaknya masih empat. Hancur perasaannya ketika pulang dari Aceh dan mengetahui bahwa istrinya selingkuh. Ditambah lagi dengan ank gadisnya yang tertua berhenti sekolah ketika dia masih duduk di bangku SMA kelas dua lantaran ibunya memaksanya untuk menikah. Bapak Agus bekerja mencari uang untuk keluarganya, untuk anak-anaknya supaya bisa tumbuh dengan baik dan mendapat pekerjaan yang baik demi masa depan mereka. Tapi karena keegoisan istrinya, anaknya menikah dengan orang yang jauh lebih tua demi harta.

Lain lagi kisah bapak Nori (bukan nama asli). Saya naik taksi dari lampu merha Jalan Baru Juanda, Depok untuk menuju ke Senayan. Beliau berkisah tentang istrinya yang mati bunuh diri lantaran malu karena telah hamil 3 bulan dari pasangan selingkuhnya. Bapak Nori yang berumur 40-an, sudah sangat mengidamkan anak selama 5 tahun pernikahannya dengan istrinya tersebut. Bapak Nori tinggal bersama istri dan keluarga istrinya. Dia adalah tulang punggung keluarga. Hatinya sakit ketika mendengar desas-desus tetangga, bahkan saudara dekatnya yang menjuluki istrinya sebagai “tukang ojek”. Julukan itu diberikan karena istrinya tersebut kerap kali pergi pagi dan ulang malam, tanpa memberitahukan tujuannya. Kecurigaan Pak Nori memuncak ketika dia memperhatikan istrinya yang keluar dari kamar mandi dan telah menggunakan jilbab lengkap. Biasanya, istrinya yang dari masa mudanya itu telah menggunakan jilbab, berdandan dan mengenakan jilbabnya dari dalam kamar tidur. “Sakit hati saya,mba, waktu ngeliat istri saya ternyata pake jilbab dari dalam kamar mandi karena hampir di seluruh tubuhnya ada cupangan, di leher, dada, sampai ke paha”. Terlebih sakit lagi ketika istrinya lapor bahwa dia hamil. Menurut keterangan Pak Nori, sudah delapan bulan mereka tidak pernah berhubungan suami istri karena setiap kali Pak Nori mendekati istrinya, dia selalu beralasan ngantuk, lelah, atau apa pun. Pak Nori berkata bahwa dia senang karena istrinya hamil, tapi dia marah sekali dan tidak mau merawat anak dalam kandungannya itu karena itu bukan darah dagingnya. Pertikaian mereka memuncak ketika Pak Nori meminta pendapat dari keluarga besar mereka di rumah. Akhirnya, istrinya itu melompat masuk ke dalam kolam ikan (empang) dan mati tenggelam. Kejadian itu baru terjadi Desember, 2009. Mereka yang bekerja menjadi supir tidak memiliki waktu yang cukup untuk berinteraksi dengan teman-teman dan kerabatnya.

Kedua bapak supir tersebut bisa dengan mudahnya bercerita kepada penumpangnya tentang masalah yang dialaminya karena dia merasa tidak memiliki kawan akrab untuk sekedar berbagi. Jadi, ketika masalah berat seperti itu terjadi, kepada penumpanglah mereka curhat. Saya hanyalah penumpang. Saya bukan sahabat atau keluarga mereka. Tapi saya senang karena mereka mau berbagai pengalamannya dengan saya. Sampai sejauh itu saja bantuan yang dapat saya berikan; menjadi pendengar dan member tip yang lumayan kepada mereka. Cerita mereka mengingatkan saya bahwa ada yang memiliki beban dan tekanan lebih berat. Bersyukurlah untuk apa yang telah kita miliki dan bersyukurlah juga untuk apa yang tidak kamu miliki atau alami.

Comments
  • etha says:

    kereeennn…
    base on true story pula.:D

  • monica says:

    hahhaha..klo keluh kesah sopir taxi yg lo tumpangin berat
    gw donk..dia ga tau jalan eh curhat soal hikayatnya mpe jd sopir taxi ada jg yg jd baik n berceloteh mcm gr2 “ngeh” dgn logat medhok gw..wew..sisi2 humanis manusia blom tergerus kejamnya ibu kota ternyata ))

  • andrinov says:

    Bagus ceu..mungkin bs membuat pembaca jd sadar kita harus bersyukur menghargai waktu Dan apapun yg kita miliki. Tpi kurang detil2nya biar lbh dramatis gt… :)

    • namasayaratih says:

      ndri, detilnya terlalu menyeramkan untuk ditulis di sini. nanti aja lah yah kalau kita berjumpa gw ceritain detinya.. ahahahaa

  • MOLOTOV says:

    kebanyakan kalo gw supir taksinya cerita2 misteri ti.hahaha

  • domdom says:

    Lo naik taksi apaan ceu?

    Bukannya ga bertoleransi, tp jaman makin edan cuy.. Org cari segala cara buat nambah duit termasuk ‘ngarang’ cerita biar org lain prihatin.. Semoga itu bukan dr supir taksi burung biru yaah..

  • namasayaratih says:

    Kalo cerita misteri mah gw langsung tinggal tidur ga pake simpati lagi, dham… ahahhahaaa

    Gw yang dari TMII naik taksi apa tuh yah yang hijau-orenz. si roma yang nyari taksi.. yang kedua naik taksiku.

    sebenernya kalo naik taksi emang juga biasanya gw ngasih tip sih. gw ga ngasih yang sampe ngelebihin 50rb gitu sih.. cuma Tuhan yang tau lah, mereka jujur atau ngga.

  • iwonk says:

    hahahahahha…..

  • oye says:

    weeew sereeem amat ni gw gmn dong klo ntar punya istri n w harus jauh dri keluarga hiks hiks

  • deden says:

    ko kalo gw curhat elo ga pernah mau dengerin ceu? :(

  • haries says:

    cerita yg d bikun td ya?
    sempet nguping. dulu juga pernah ngomongin RS yg prita itu. katanya ibu nya meninggal karena malpraktik atau g profesional gitu.

  • aat says:

    Pak Supir Taxi-nya lihat lu kaya ibu2 berarti Tih,

    Klo gw yg naik obrolan standar gw adalah,
    1. Bapak tinggal dimana
    2. Pool taxi-nya dimana
    3. Bapak lagi shift malam ?, lagi mau pulan atau shift pagi baru keluar (seringnya gw naik taxi pagi /siang)
    4. Jauh donk ya dari rumah / enak ya deket (tergantung jarak pool taxi dan tmpt tinggal si supir)
    5. Biasanya sampai pertanyaan ke 4 ini dia bales nanya

    a. Klo bapak tinggal dmn
    b. Udah kawin, udah punya anak?

    Dan kemudian gw bales tanya pertanyaan sama dengan a dan b diatas

    nah setelah itu berkembang deh kecurhatan supir taxi sambil diselingi komen2 terhadap pengemudi jalan, kondisi jalan atau kemacetan dijalan

    • namasayaratih says:

      Justru itu, At. Dialog di atas (yang gw tulis) terjadi karena pembicaraan diawali dari yang kayak lu tulis. Tapi ngga tau kenapa, mereka jatohnya malah curhat. Emang, muka gw simpatik yah. Jadi orang mau-mauan aja curhat ke gw, yang adalah orang asing bagi mereka,, ;) )

Leave a Comment
*