My Trip to Semarang
Sekarang saya sedang berada di Semarang.. Terakhir ke Semarang tahun lalu, dan sama saja panasnya. Padahal lokasi saya sekarang di Tembalang, di daerah atas kota Semarang. Logikanya sih, mestinya disini agak sedikit dingin. Tapi tetep aja, puanas… No wonder kota ini tidak seramai Jogjakarta.
Tujuan saya ke Semarang adalah untuk mengunjungi kekasih hati…. hehehehhehee… Jadi malu… Soalnya, sudah lama kami tidak bertemu. Yah, lumayan, sekalian mengisi waktu yang sangat luang (baca: pengangguran).
Perjalanan ke Semarang kali ini saya tempuh dengan menggunakan KA Tawang Jaya, kelas ekonomi. Ini merupakan pengalaman pertama saya menumpang kereta api kelas ekonomi. Yang saya rasakan setelah menempuh perjalanan tidak kurang dari 9 jam adalah: kaki kelu, tulang ekor rasanya menumpul
) , kepala pusing dan dada sakit. Tempat duduk kelas ekonomi terbatas, dalam artian tidak senyaman kelas eksekutif. Variasi posisi duduk pun terbatas. Disini perokok bebas membakar rokok dan bebas pula menyembur asapnya kemana-mana, tergantung kemana angin berhembus. Yang menjadi masalah adalah, ketika saya hampir mencapai tempat tujuan, dada saya menjadi sesak seperti setelah merokok satu bungkus rokok. Inilah buruknya menjadi perokok pasif. Bagi saya, pilihan kereta ini tidak menyenangkan untuk perjalanan jarak jauh yang saya lalui. Cukup tahu lah.
Daripada saya menyesali diri, merenungkan nasib saya di dalam kereta, waktu saya habiskan dengan mengobrol, mengisi TTS, mengabadikan pose penumpang yang tidur, mengomentari hal-hal yang terjadi di sekitar (selain pastinya juga tidur). Lucu juga ketika kita duduk diam dan memperhatikan tingkah laku orang-orang di sekitar kita. Ada yang tidur berenam dengan posisi saling tindih, ada yang bepergian bersama kekasihnya dan tidur berangkulan, ada yang hanya menghabiskan waktunya dengan mendengarkan musik hingga tertidur dengan mulut menganga, dan lain-lain. Pastinya mereka semua berbeda latar belakang. Ada salah satu dari penumpang yang duduknya tidak jauh dari kami yang kehilangan telepon genggam ketika dia sedang tidur. Sungguh suatu pengalaman yang tidak menyenakngakn. Itu menjadi pelajaran supaya menjaga dengan baik barang berharga kita.
Berhubung ini bulan puasa, penjaja makanan di jam sahur pun sangat banyak dan beraneka ragam. Mereka tidak menyia-nyiakan momen bulan ramadhan ini (baca: oportunis). Yang paling berkesan adalah ketika teman seperjalanan saya Wieldy membeli lontong pecel dan bakwan. Mungkin karena rasa lapar (entah lapar mata atau lapar perut), kami memesan pecel itu. Wajah penjualnya membuat saya teringat pada hasil karya Haji Jeje (thanks for Momon for the previous info.. LOL). Si penjual adalah seorang ibu (mirip Mpok Ati) yang kira-kira berumur 40-an. Pecel yang dihidangkannya tampak menggiurkan. Ketika saya mencoba pecel itu, semua bayangan akan rasa yang telah saya bangun bagaikan jatuh dari puncak gedung 50 tingkat.
) Asli, bukan bohong, rasaya aneh. Rasa sayurannya sangat asin. Saya mempunyai kecurigaan bahwa sayuran itu sudah basi dan dia mencucinya dengan air garam supaya bisa dijual kembali. Benar-benar ilfeel!!!! Ini adalah pelajaran selanjutnya ketika bepergian, jangan membeli makanan yang sudah jelas-jelas tidak terjamin kebersihannya (baca: KA kelas Ekonomi). Yah, seperti biasa, saya hanya tertawa setelah mengalami kejadian ini.
Contoh keajaiban manusia yang saya abadikan di kereta… hahahhahaa



Jabber
Madah Bahana
Marching Maniac
wew….pemandandan Rewo-Rewo
hyaaaaaaaaaa…………
hahaha bemi cinta ampe ke semarang yaah mantaaabs
Ah, Oye bisa ajah… ohohohoooo