Economy Class = OPORTUNIS?

Akhir-akhir ini saya kembali sering menggunakan jasa Kereta Api Listrik KRL Jabodetabek. Sebelumnya saya nenggunakan jasa KRL Jabodetabek jurusan Jakarta-Bogor sebagai alternatif transportasi saya untuk pulang dari sekolah ketika SMA dulu (dari Lapangan Banteng St Juanda ke Depok St UI!). Sudah pasti KRL tersebut penuh sesak dengan berbagai macam manusia dengan segala kebutuhannya (sekolah, kuliah, berdagang, bekerja, dll). Terjadinya pencopetan dan pelecehan seksual di dalam kereta yang penuh sesak tersebut bukan hal yang baru bagi saya. Pernah ada kasus teman saya yang roknya basah terkena sperma, ada yang bagian kewanitaannya disentuh, dll. Menyedihkan memang melihat hal itu terjadi di sekitar saya.

Beberapa minggu terakhir saya melihat dan mendengar hal yang lebih menyedihkan lagi. Seorang teman saya (baca: Ferry) bercerita bahwa di gerbong kereta yang dia naiki, ada seorang bapak yang terjatuh lantaran tidak mendapat ruang untuk berdiri. Sumber saya tersebut mengatakan bahwa hal itu dikarenakan ada dua orang ibu-ibu berbadan besar yang duduk di lantai kereta. Pastinya mereka memakan banyak space. Otomatis orang-orang yang berdiri di sekitarnya terdesak keluar, sampai-sampai ada yang terjatuh.

Bukan hal yang jarang dilihat ketika ada tempat duduk kosong yang ditempati oleh pemuda dan bapak-bapak, alih-alih ibu-ibu yang sudah agak tua. Benar-benar pemandangan yang membuat saya menjadi berpikir, sampai seperti inikah akibat dari ekonomi rendah di Indonesia. Jawabannya sudah pasti, YA. Kemiskinan di Jakarta membuat orang-orang tidak peduli terhadap sesamanya. Mereka hanya mementingkan apa yang terbaik untuk dirinya sendiri, tanpa memperhitungkan sekitarnya.

Kejadian-kejadian di kereta tersebut hanyalah sampel kecil dari realita kehidupan di ibukota. Itu baru masalah tempat duduk dalam kereta, belum masalah dalam hal pekerjaan dan lain-lain. Sedih bagi saya, karena saya hanya bisa berkata. Saya tidak memiliki kuasa untuk melakukan sesuatu yang besar. Di ulang tahun Indonesia yang ke 65 ini, menjadi tipis harapan saya. Mengapa mental bangsa ini menjadi seperti oportunis tanpa berpikir tentang orang di sekitarnya.

Saya jadi ingat pelajaran-pelajaran yang saya dapat di bangku SD dulu; Indonesia adalah negara yang kaya akan SDA, Indonesia adalah negara yang penduduknya ramah-ramah, kita harus saling tolong-menolong, kita harus selalu membantu orang lain. Bicara mudah, prakteknya pun tidak susah bagi saya. Tetapi kalau hanya sedikit orang yang melakukannya, sama saja seperti menggarami air laut (baca: sama aja bo’ong!).

Leave a Comment
*