Do You Hate Saturday?

It is Saturday night and, as usual, I’m alone. Bukan salah siapa-siapa sih. Saya pun tidak menyalahkan siapa-siapa. Hanya saja, ada seorang teman saya yang berkata bahwa Sabtu adalah hari yang paling menyebalkan. Sebenarnya saya juga tidak mengerti apa yang membuat teman saya itu tidak suka dengan hari Sabtu..

Jadi, kondisi yang sedang saya alami adalah: pacar di luar kota, orang tua di luar kota, adik keliling kota. Benar-benar sendiri.

Sebenarnya ini bukanlah suatu hal yang baru. Saya lebih memilih berada di kamar atau rumah kawan untuk menghabiskan waktu. Tapi entah mengapa khusus untuk Sabtu hari ini, saya merasa tidak seharusnya saya berada di rumah. Yah, mungkin perasaan ini timbul lebih karena rasa rindu (berlebihan!) pada orang yang ada di Semarang itu.

I don’t hate Saturday. Tetapi kenapa yah ada orang yang tidak suka hari ini? Apakah karena hari Sabtu identik dengan harinya pasangan yang bercinta-cintaan? Saya rasa tidak. Pacaran bisa hari apa saja, tidak hanya Sabtu. Atau karena semua teman-temanmu pergi ke suatu tempat dan kamu tidak ikut karena tanggal tua (baca: tidak punya uang)? Well, yang namanya bersenang-senang tidak hanya dengan menghabiskan waktu bersama teman, menghabiskan uang. Saya sendiri lebih prefer menghabiskan waktu di kamar, melakukan sesuatu yang menghasilkan.

Untuk teman-temanku yang memiliki masalah ini, membenci hari Sabtu, dude, the problem is you. Pastinya kalau saya saat ini merasa kerinduan untuk pergi-pergi dengan pacar ( :p ). Tidak masalah kalau saya tidak bisa melakukannya sekarang. Masih ada game online sebagai pelipur lara..

What A Life

Just wanna share about life..

Di umur 20-an seperti saya ini, banyak hal tak terduga yang kita temui. Seperti, pacarmu meninggalkanmu, berkelahi dengan teman, bertemu teman lama yang tadinya biasa sekarang jadi kinda hot, berkenalan dengan orang baru dan akhirnya tertarik, jatuh cinta sama pacar sahabat, atau apapun lah. Semua itu manusiawi, hal yang lumrah dialami orang-orang. Jujur, kita sendiri pun pasti bingung, bagaimana menyikapi hal-hal tersebut di atas kalau terjadi pada diri kita.

Contoh pertama, kamu mau putus dari pacarmu tapi kamu tidak tega memutuskannya. Apa yang harus dilakukan?

Baby, you gotta be true to yourself. So what kalau kamu tidak tega? Kalau kamu memang sudah tidak memiliki sparkly and tingly feeling ketika bersama dia, sudahi saja. PAstinya dengan persetujuan kedua belah pihak. Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana bila salah satu pihak tidak setuju? Talk about it, just the two of you. Saya adalah orang yang selalu memberi kesempatan bagi orang lain untuk memperbaiki diri. Maybe you should renew your relationship. Bangun komitmen kalian dari awal. Tapi ini tidak berlaku bagi pasangan yang salah satunya memiliki pacar lain. Hell no, bitch must go!

A friend of mine recently was experiencing that kind of problem. Alasan mengapa dia ingin putus dari pacarnya adalah karena dia merasa diperalat orang pacarnya tersebut. Dia merasa bahwa pacarnya menutupi sesuatu darinya. Wah, kalau itu yang terjadi, saya hanya bisa berkata, life must go on. Kalau ternyata selama ini dia membohongimu, apa kamu masih mau menjalani hubungan dengannya? Siapa yang tahu kalau dia mungkin ternyata memiliki pacar lain di tempat asalnya. Kejujuran itu sangat penting untuk membina hubungan –hubungan yang serius. Kalau yang kalian lakukan hanya main-main, berdasarkan pada ketertarikan fisik semata, hentikan itu sekarang juga. Ada saja orang yang dengan sengaja menjalin hubungan denganmu hanya untuk kepentingannya semata. Misal saja, dia adalah orang baru di daerahnya dan membutuhkan seseorang untuk menjadi teman sebagai pegangan. Do you really wanna make a commitment with that person?

Keputusan yang diambil oleh teman saya tersebut (setelah berbulan-bulan penuh dengan diskusi) adalah, dia memberanikan diri untuk memutuskan hubungan. Alasan yang dia ambil adalah, dia butuh focus pada kuliah dan bandnya. Keputusan yang sangat saya dukung karena, selama enam bulan pertama mereka menjalin hubungan, si gadis dari tempat yang jauh itu sebenarnya masih berstatus in relationship dengan orang lain. Dan, ya, gadis itu mau menjadi pacarmu karena kamu memiliki mobil dan segala fasilitas yang bisa membuat dia nyaman berada di tempat yang baru. Thank God they’re broke up. Meskipun ditahan-tahan berbulan-bulan, teman saya akhirnya berani memutuskan hubungan. You just need courage, my friend.

Contoh kedua, kamu jatuh cinta pada seorang gadis yang merupakan pujaan hati sahabatmu. Apa yang harus dilakukan?

Ini merupakan hal yang manusiawi. Setiap orang bisa mengalami hal ini. Tapi perlu diingat, perasaanmu dan gadis yang kamu suka itu bukan yang paling utama; masih ada perasaan sahabatmu. You gotta deal with his feeling too. Bagaimana pun, dia adalah sahabatmu. Coba untuk membicarakan hal ini dengannya. Mungkin kamu takut dia marah atau malah memutuskan tali persahabatan. Bisa jadi hal yang terjadi adalah 180 derajat kebalikan dari yang kamu bayangkan. Pasti sahabatmu itu ada perasaan kecewa, tapi setidaknya kamu tidak mengkhianati dia dengan memberitahukan segera padanya. Memang terlihat cliché, ketika persahabatan hancur karena wanita. Tapi kalau itu terjadi, mau bagaimana lagi? Berharap saja semoga sahabatmu itu adalah orang yang terbuka dan lapang dada.

Contoh ketiga, dua orang temanmu yang berpacaran akhirnya putus dan kamu pun ikut putus tali persahabatan dengan salah satu dari mereka. Apa yang harus dilakukan?

Hmmm… Agak sulit memang. Pasangan itu pasti berharap kamu memihak pada salah satu dari mereka. Disitu kesetiaanmu diuji. Kalau menurut saya, janganlah memihak. Lebih baik kamu tidak mendengarkan proses mereka sama sekali, karena akan menjadi complicated. Lain cerita kalau salah satunya berselingkuh. Berpihaklah pada kebenaran. Dengan bersikap dewasa bagi semua pihak akan membuat segalanya menjadi lebih mudah. Tapi namanya manusia, semua orang ingin dibilang dewasa. Hahahahhaaa…

Contoh keempat, kamu baru mengenal seorang gadis cantik dan ingin menjadi pacarnya padahal dia baru putus dengan pacarnya. Apa yang harus dilakukan?

Ada kode etik berpacaran yang berkata bahwa kamu harus menunggu paling tidak 3 bulan setelah dia putus, baru menyatakan perasaanmu. Terlalu lama? Ya, tapi bagaimana lagi. Antara si gadis merasa takut dicap buruk dan kamu merasa ingin segera memilikinya. Kira-kira, akankah kamu memikirkan perasaan orang-orang di sekitar kamu yang akan berpikir macam-macam kalau kalian segera pacaran? Misalnya, “Wah, cewe N cepet banget yah jadian sama si A. Padahal kan si N baru putus sama M. Pasti ada apa-apanya nih.” Itu hanya contoh, but would you consider that?

Contoh kelima, kamu baru putus dari pacar kamu dan kamu mengetahui bahwa dia sudah menyukai gadis lain padahal kamu masih sayang dia. Apa yang harus dilakukan?

Saya pribadi pernah mengalami hal ini. Di satu sisi, itu hak dia untuk menyukai orang lain. Di sisi lain, hati rasanya remuk. Dilemma memang. Pilihannya hanyalah mengikhlaskan atau mengajak untuk kembali berhubungan. Sampai saat ini sih yang saya pilih adalah opsi kedua. Saya percaya bahwa cinta sejati itu bukan diberi, bukan jodoh, bukan nasib. Menurut saya, cinta sejati adalah ketika kedua orang yang berhubungan itu mau memperjuangkan perasaannya. Sue me, but that’s what my opinion of love.

Contoh keenam, sahabat-sahabatmu tiba-tiba menjauhimu sehingga ketika berada di antara mereka kamu merasa terasing. Apa yang harus dilakukan?

Interospeksi. Jangan malu bertanya. Sadar diri. Berusaha peka akan keadaan. Mungkin hal yang sering kamu lakukan (tanpa sadar) mengganggu mereka. Jangan malu untuk berdiskusi dengan salah satu sahabat yang bisa dipercaya. Yang terpenting, jangan berasumsi sendiri. You’re not Mr Holmes yang bisa mengetahui apa yang terjadi tanpa bertanya. Beliau pun butuh penyelidikan untuk mengetahui apa yang terjadi. Kamu harus lapang dada dengan kritik dari sahabat-sahabatmu. Bukan mereka yang salah, tapi kamu. Logikanya adalah, tidak ada 1 orang waras di antara 10 orang gila. Yang ada adalah 1 orang gila di antara 10 orang waras (kecuali di RSJ).

Contoh ketujuh, sahabatmu jatuh cinta pada gadis idamanmu dan kamu mengetahui hal itu sedangkan sahabatmu itu belum juga menceritakannya kepadamu. Apa yang harus dilakukan?

Agak kurang bijaksana memang kalau kamu lebih dulu melakukan konfrontasi ke dia. Tunggu saja sampai sahabatmu itu memberitahu. Saya yakin, pasti dia juga merasa bersalah dan tidak enak hati terhadapmu. Tapi terimalah apa yang dia ingin katakan. Namanya juga manusia; jatuh cinta itu adalah hal yang wajar.

Contoh kedelapan, kamu membohongi pacarmu dan memiliki pacar lagi di tempat yang lain. Apa yang harus dilakukan?

So you’re a bitch. Please stop messing around with my friend. He’s like a brother to me. Usahakan kamu putus hubungan dulu dengan pacar terdahulu sebelum menjalin hubungan dengan yang lain. Kamu tidak ingin dicap buruk oleh orang-orang kan? Ingat, serapat apapun kebohongan itu, pasti akan tetap tersibak.

Well, that’s (almost) all, guys. Those are something happened recently. Secrets that I (almost) revealed. Keeping a secret is like hell. Maaf bagi pihak-pihak yang merasa tersindir. Saya hanya melihat dari sisi seorang perempuan berusia 25 tahun yang sedang belajar menjadi lebih dewasa.

Jewel In Palace (the sequel… wkwkwkkwkw)

Setelah kenyang (sangat) ditraktir temennya mama yang ultah, kami jalan-jalan ke Mall of Indonesia (MOI). Iseng-iseng jalan-jalan, main game, lihat-lihat, eh, ada tempat fot pake kostum. Karena saya orang nya suka iri hati (halllaaahhh), jadi ikutan minta difoto deh.. Kostum yang tersedia memnag diperuntukkan untuk anak-anak. Tapi karena saya memang (agak) berjiwa narsis, saya agak memaksa mbak-mbak penjaganya untuk mencarikan kostum untuk saya.

-”Mbak, ngga ada yang untuk orang dewasa?”

-” Ada kok. Sebentar ya..”

Kalian tahu kostum apa yang dikeluarkan? Kostum tradisional wanita Korea………. Kenapa juga saya pake emoticon yang begitu bentuknya? Biarlahhh… Lanjuuuttt….

Jadi teringat serial Jewel In The Palace. Jang Geum maniac nih ceritanya.. Tanpa berpikir berkali-kali, saya kenakan kostum tersebut. Nagus-bagus kalau dibikin sequel serial Jewel In Depok dengan saya sebagai pemerannya..

Jadi malu. Tapi hasil fotonya (menurut saya) bagus kok. Paling si Mamas aja yang tidak setuju (bukan tidak suka) melihat saya berdandan seperti itu. Mungkin dia takut ada orang lain yang melirik saya.. Heheheheheeee….

I am a Marching Band

Lagi tidur enak-enak, kekasih menelepon, “Jo, gw tunggu di ruko 10 menit lagi!.” Kontan, langsung saya bangun dan mandi (ga bisa dibilang mandi sih kalo cuma sikat gigi dan guyur-guyur badan). Yah, intinya sih langsung menemui kakanda lah (najis banget diksinya).

Setelah bertemu, barulah dia memberitahu, akan kemana kami. Ternyata mau nonton MBUI latihan. Sebagai alumni (cieeeee alumniiii), kami concern dengan perkembangan mereka. Meskipun tidak langsung menuju ke TKP (baca: jalan-jalan , belanja dan makan dulu), kami tiba di sana kira-kira jam 14.00.

Kesan pertama saya setelah tiba di gymnasium, saya disambut ramah oleh pengurus yang kebetulan sedang berada di luar. Menurut saya ini sangat menyenangkan, karena dari dulu, kami yang sudah tidak aktif sebagai pemain mendapat kesan asing dan kurang ramah dari pengurus ketika kami datang berkunjung. Hal itu sangat penting, membuat kami merasa masih menjadi bagian dari mereka.

Melihat anak-anak cadets yang tahun lalu saya ajar berlatih dengan semangat, rasanya sungguh membanggakan. Meskipun secara skill mereka masih belum laik tampil di kejuaraan, tapi perkembangan mereka dibandingkan dengan penampilan terakhir cadets jauh meningkat.

Saya memang bukan pelatih profesional, tetapi ada beberapa hal yang bisa saya evaluasi. Pasukan MBUI 2010 bisa dibilang baik dalam hal team building dan kepatuhan terhadap pengurus. Tidak seperti tahun-tahun terdahulu yang ada aja pasukan yang bangor… Hahahahhahahaaaa. Saya paham pembiasaan itu penting, tapi ingat juga akan titik jenuh. Artinya begini, kalau kamu merasa tidak ada kemajuan yang signifikan, berhentilah mencoba. Lakukan sesuatu yang lain dulu. Setelah merasa lebih segar, kembalilah ke kegiatan pertama yang kamu tinggalkan. Contohnya, ketika kamu merasa riffle selalu jatuh, seberapa besarpun kamu melatihnya, berhenti berlatih riffle. Mungkin kamu bisa berlatih yang lain dulu. Kalau sudah merasa lebih yakin untuk bisa memulai kembali berlatih dengan menggunakan riffle, baru deh mulai lagi.

Hal yang patut diingat:

  • Tubuh memiliki batas jenuh juga, lho meskipun kamu tidak sadar
  • Memang di MBUI kita belajar untuk melampaui batas kemampuan kita. Tapi mengistirahatkan tubuh (anggota tubuh yang digunakan untuk menghasilkan suara atau gerakan) juga penting.

Ini masih bulan Juli. Saya tidak mau merusak semangat kalian dengan memberi ceramah yang tidak menyenangkan… hahahahhahaaaa

Tetap semangat yah adik-adikku.. Rebut kembali piala besar itu!!!!!!!!!